BAB I
EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE ROLE
PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN
MATERI AKIDAH AKHLAK
SISWA MTS AL-AJHARIYAH
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa
suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru
sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya
interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Salah satu
problematika dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam yaitu pada aspek
metodologi pembelajaran, guru masih bersifat normatif, teoritis dankognitif
yang mana kurang mampu mengaitkan serta berinteraksi dengan materi-materi
pelajaran yang lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Furchan(1993)
menjelaskan bahwa "Penggunaan metode pembelajaran PAI di sekolahkebanyakan
masih menggunakan cara-cara pembelajaran tradisional, yaituceramah monoton dan
statis a-kontekstual, cenderung normatif, monolitik, lepasdari sejarah, dan semakin
akademis.” [1]
Proses belajar
mengajar yang diselenggarakan di sekolah sebagai pusatpendidikan formal sebagai
upaya untuk mengarahkan perubahan pada diriindividu secara terencana baik dari
segi kognitif, afektif dan psikomotorik dalaminteraksi belajar sangat
dipengaruhi oleh beberapa komponen antara lain adalahpendidik, peserta didik,
materi pelajaran, metode pembelajaran, saran prasarana,lingkungan, dan beberapa
komponen lain yang mendukung dalam proses pembelajaran serta berbagai usaha
yang harus dilakukan untuk menumbuhkandaya tarik dan semangat belajar bagi
peserta didik.
Perkembangan
mental peserta didik di sekolah antara lain, meliputi kemampuan untuk bekerja
secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus
memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metodeyang efektif dan bervariasi.
Proses
pembelajaran juga harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.Dalam
proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yangsangat penting untuk
pencapaian tujuan karena ia menjadi sarana dalammenyampaikan materi pelajaran
yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode,suatu materi pelajaran tidak dapat
terproses secara efektif dan efisien dalamkegiatan belajar mengajar menuju
tujuan pendidikan yang diharapkan.
Penggunaan
metode yang tepat akan sangat menentukan efektifitas danefisiensi pembelajaran.
Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode lain yang
berpusat pada guru, serta lebih menekankan padainteraksi dengan peserta didik.
Penggunaan metode yang bervariasi akan sangatmembantu peserta didik dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Pengalamanbelajar di sekolah harus fleksibel dan
tidak kaku, serta perlu menekankan padakreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan
dan pengarahan ke arah kedewasaan.[2]
Metode pendidikan
yang tidak efektif akan menjadi penghambatkelancaran proses belajar mengajar
sehingga banyak tenaga dan waktu terbuangsia-sia. Oleh karena itu, metode yang
diterapkan seorang guru akan berdaya danberhasil guna jika mampu dipergunakan
dalam mencapai tujuan pendidikan yangtelah ditetapkan.Dalam proses pendidikan
Islam, metode yang tepat guna apabilamengandung nilai-nilai intrinsik dan
ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat
dipergunakan untuk merealisasikan nilai-nilai idealyang terkandung dalam tujuan
pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum, dantujuan pendidikan Islam
mengandung relevansi dan operasional dalam prosespembelajaran.
Oleh karena
proses pendidikan mengandung makna internalisasidan transformasi nilai-nilai
Islam ke dalam pribadi manusia didik sebagai upayauntuk membentuk pribadi
muslim yang beriman, bertakwa, dan berilmupengetahuan.Sebagai salah satu
komponen operasional ilmu pengetahuan Islam, metodeharus bersifat mengarahkan
materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yanghendak dicapai melalui proses
tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formalmaupun nonformal. Dengan
demikian menurut ilmu pendidikan Islam, suatumetode yang baik harus memiliki
karakter dan relevansi yang senada dengantujuan pendidikan Islam.Ada tiga aspek
nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam yanghendak direalisasikan
melalui metode yang mengandung karakter dan relevansitersebut.Pertama,
membentuk peserta didik menjadi hamba Allah yang mengabdikepada-Nya
semata.Kedua,bernilai edukatif yang mengacu kepada petunjuk
Al-Qur'an.Ketiga,berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai ajaran
Al-Qur'an yang disebut pahala dan siksaan.[3]
Berdasarkan
pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang
meningkatkan kreativitas siswa, Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan
metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas,
sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Dengan demikian,
suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Pada zaman
sekarang ini, yang kita ketahui banyak sekali guru yang telah banyak menyandang
sebagai guru berpotensi, maka mereka pun di tuntut untuk menciptakan model
pembelajaran yang menyenangkan agar PBM di kelas tidak terlihat monoton. Maka
dari situlah akan terlihat hasil belajar siswa, dengan metode pembelajaran yang
di pakai seorang guru.
Dari metode yang
dipakai maka di sesuaikan oleh karakteristik siswa di kelas, agar tujuan yang
di inginkan akan tercapai, dan siswa pun dapat merasakan betapa tidak sulit nya
dalam belajar di kelas. Mata pelajaran siswa pun berbagai macam
pelajaran salah satu nya adalah pendidikan agama islam salah satu nya adalah Akidah-akhlak.
Melihat fenomena
yang terjadi di madrasah tersebut, maka peneliti tertarik mengadakan penelitian
lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menulis huruf
hiaiyah dengan judul,: “EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM
MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AKIDAH-AKHLAK SISWA DI MTS AL-AJHARIYAH “
B.
Identifikasi
Masalah
Dilihat dari latar
belakang masalah maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut
:
1. Penggunaan
metode role playing
2. Pemahaman
materi akidah-akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
3. Efektifitas
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi
Akidah-Akhlak di MTs AL-AJHARIYAH
C.
Fokus
penelitian
Dengan
menggunakan Identifikasi Masalah Diatas , sehubung dengan masalah yang terkait
dengan Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman
materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH“, maka dengan ini peneliti memfokuskan
sebagai berikut :
1. Penggunaan
metode Rolle Playing
2. Pemahaman
materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
D.
Rumusan
Masalah
Dilihat dari Fokus Masalah di atas,
Peneliti merumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi
Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH?
2. Bagaimana
cara meningkatkan pemahaman materi akidah-akhlak di MTS AL-AJHARIYAH?
3. Bagaimana
efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi
Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH?
E.
Tujuan
Penelitian
Berdasarkan Perumusan Masalah
diatas, maka penelitian ini bertujuan :
1. untuk
mengetahui cara Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan
pemahaman materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
2. untuk
meningkatkan pemahaman materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
F.
Manfaat
penelitian
1. Secara
teoritis
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dalam Pendidikan Agama Islam, khususnya tentang
meningkatkan pemahaman materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
2. Secara
praktis
Manfaat
penelitian yang di harapkan sebagai berikut :
a. Bagi
peserta didik MTS AL-AJHARIYAH
1) Kompetensi
peserta didik dalam mata pelajaran Akidah-Akhlak dapat dicapai.
2) Hasil
belajar peserta didik di MTS AL-AJHARIYAH dalam pemahaman materi Akidah-Akhlak
di MTS AL-AJHARIYAH.
3) enggunaan
metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Akidah-Akhlak di MTS
AL-AJHARIYAH.
b. Bagi Guru MTS AL-AJHARIYAH
1) Adanya
inovasi dalam penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman
materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
2) Untuk
memudahkan Guru PAI dalam penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan
pemahaman materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH.
3)
Untuk mencapai
satu tujuan yang di inginkan sesama guru PAI dalam meningkatkan pemahaman
materi Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.
Pengertian
Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih
dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
B.
Tujuan
pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan
apabila pelajaran dimaksudkan untuk:
1. menerangkan
suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan
pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena
akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak.
2. melatih
anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis.
3. melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul
dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
C.
Langkah-langkah
model pembelajaran role playing
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru
menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari
skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk
siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa
membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok,
bimbingan penyimpulan dan refleksi.
D.
Pengertian
dan ciri-ciri pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran
untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu
‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai
bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai
keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian
memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut.
Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam
‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang
didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill
Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di
luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan
menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, role Playing sering kali dimaksudkan
sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya
seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu,
2000).
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek
pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan
menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid
(Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran PKn standar kompetensi
memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan
lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam
bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima
kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif
berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari
(Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa
adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian
sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing
adalah: Pertama, role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana
murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan
sedang mereka pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup
banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada
murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke
dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12)
E.
Kelebihan
dan kekurangan role playing
Kelebihan metode Role Playing melibatkan seluruh
siswa berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam
bekerja sama.
Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa dengan
baik dan benar. Selain itu, kelebihan metode ini adalah, sebagai berikut:
1. Siswa
bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan
dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru
dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan
permainan.
4. Dapat
berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan
pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan
5. Sangat
menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh
antusias
6. Membangkitkan
gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa
kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
7. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung
dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya
dengan penghayatan siswa sendiri.
8.
Dimungkinkan
dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka
kesempatan bagi lapangan kerja.
Hakekatnya
sebuah ilmu yang tercipca oleh manusia tidak ada yang sempurna,semua ilmu ada
kelebihan dan kekurangan.Jika kita melihat metode Role Playing dalam dalam
cakupan cara dalam prooses mengajar dan belajar dalam lingkup pendidikan
tentunya selain kelebihan terdapat kelemahan. Kelemahan metode role palying antara lain:
1. Metode
bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak.
2. Memerlukan
kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.Dan ini
tidak semua guru memilikinya.
3. Kebanyakan
siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan
tertentu.
4. Apabila
pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja
dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran
tidak tercapai.
5. Tidak
semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
F.
Pengertian
pembelajaran akidah-akhlak
Kata hakikat dalam Kamus Besar Bahasa Indonenesia
(2001 : 383) bisa diartikan intisari atau dasar atau kenyataan yang sebenarnya
/sesungguhnya. Jika dihubungkan dengan pembelajaran aqidah akhlak bisa
diartikan apa intisari atau dasar pembelajaran aqidah akhlak.
Istilah pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001 :17) diartikan proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau
makhluk hidup belajar. Dalam kaitannya dengan hakikat pembelajran aqidah akhlak
adalah bagaimana sebenarnya intisari aqidah akhlak dan bagaimana cara atau
proses untuk mempelajarinya. Oleh karena itu pembelajaran mempunyai beberapa
aspek. Jika dihubungkan dengan proses belajar mengajar maka aspek yang perlu
ada dalam proses adalah berkaitan dengan bagaimana cara merencanakan
pembelajaran aqidah akhlak, materinya apa, sterateginya, medianya,
langkah-langkahnya dan bagaimana mengevaluasinya.
Selanjutnya istilah aqidah menurut kamus Al Munawir
dalam Ilyas (1995 : 1) berasal dari bahasa Arab yang berasal dari kata ‘aqada-
ya’qidu-‘aqdan-‘aqidatan, yang berarti simpul, ikatan, perjanjian yang kokoh,
setelah terbentuk menjadi kata ‘aqidah berarti keyakinan, dan selanjutnya
diartikan keyakinan itu tersimpul dengan kokoh di dalam hati, bersifat mengikat
dan mengandung perjanjian. Tidak ada manusia yang tidak mempunyai aqidah atau
keyakinan, semuanya mempunyai keyakinan hanya saja keyakinannya itu apa ?,
keyakinan pada dewa, pada tiga tuhan, atau bahkan keyakinan bahwa tuhan tidak
ada, itupun juga keyakinan.
Yang dimaksud dengan hakikat pembelajaran aqidah
disini adalah keyakinan Islam atau keyakinan pada Allah, artinya bagaimana cara
atau proses mengajar manusia agar mempunyai keyakinan Islam atau keyakinan
kepada Allah yang kuat. Karena aqidah ini adalah fondaasi dari ajaran Islam,
jika aqidahnya atau keyakinannya kuat maka dia akan mudah untuk menjalankan
ajaran Islam yang lain.
Oleh karena yang dipelajari adalah aqidah Islam,
disini pengertian aqidah menurut salah satu pendapat yaitu menurut al Banna
dalam Ilyas (1995 :1) adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya
oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak
bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Jadi aqidah disini dimaksudkan
adalah keyakinan yang tidak bercampur keraguan. Jika dikaitkan dengan hakikat
pembelajaran aqidah adalah bagaimana intisari pelajaran tentang keyakinan dalam
Islam dan bagaimana cara atau proses untuk mempelajarinya.
Selanjutnuya istilah akhlak. Menurut kamus Al Munjid
dalam Asmaran (1992 : 1) kata akhlak berasal dari bahasa arab yang bentuk
jamaknya khulq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Oleh para ahli ilmu akhlak istilah itu dianggap belum tepat, maka menurut
mereka yang lebih tepat adalah menurut Al Ghazali dalam tim proyek pembinaan
agama Islam (1985 : 53) khulq itu berarti bentuk kejadian dalam hal ini yang
dimaksaud bentuk batin/psikis seseorang. Selanjutnya dijelaskan disitu menurut
Al Ghazali akhlak adalah suatu istilah tentang bentuk batin yang tertanam dalam
jiwa seseorang yang mendorong ia berbuat atau bertingkah laku, bukan karena
suatu pemikiran dan bukan pula suatu pertimbangan.
Mengapa tanpa pertimbangan atau pemikiran? karena
dia sudah menjadi sifat atau sesuatu yang melekat, hal itu karena sudah menjadi
kebiasaan, bukan berarti perbuatan yang tak difikirkan tetapi sudah nmenjadi
darah daging, dan itu bisa baik dan bisa buruk tergantung proses pembiasaan
yang didapatkan dalam hidupnya, Oleh karena itu dalam tim proyek pembinaan
agama Islam (1985 : 55)
Pembelajaran akhlak berarti pembelajaran tentang
bentuk batin seseorang yang kelihatan pada tindak tanduknya atau tingkah
lakunya, didalam pelaksanaan pembelajaran berarti bagaimana proses kegiatan
belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajar berakhlak baik,
artinya orang yang diajarkan punya bentuk batin yang baik menurut ajaran Islam
dan nampak dalam perilakunya sehari-hari, atau dalam bentuk sederhana adalah
bagaimana cara orang berakhlakterpuji.
Menurut ajaran Islam Jadi hakikat pembelajaran
aqidah akhlak adalah apa sebenarnya intisari atau dasar dari keyakinan dan
perilaku (yang berdasarkan bentuk batin) yang baik menurut ajaran Islam dan
bagaimana cara atau proses manusia untuk mempelajarinya, agar manusia memahami
ajaran itu dengan baik. Jika disederhanakan lagi maka program ini dimasudkan
adalah bagaimana agar mahasiswa mengetahui dan memahami apa sebenarnya dasar
atau intisari dari ajaran tentang keyakinan dan perilaku yang baik dalam ajaran
Islam, serta bagaimana proses atau cara untuk mengajarkannya kepada siswa.
G.
Konsep
dasar materi aqidah akhlak
Konsep menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001 :
589) adalah rancangan atau ide,/pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa
konkret. Jadi pengertian tentang sesuatu termasuk juga konsep, tetapi konsep
lebih luas dari pengertian, karena dia juga bisa berarti ide tentang sesuatu,
ide itukan luas, atau rancangan, rancangan itu juga luas, jadi pengertian sudah
termasuk konsep tetapi konsep tidak hanya pengertian tetapi lebih luas lagi.
Oleh karena itu selanjutnya akan dijelaskan tentang pengertian mengenai materi
aqidah akhlak dan hal-hal yang berkaitan dengan materi aqidah akhlak.
Ajaran Islam secara garis besar ada tiga menurut
Syihab (1996 ) yaitu aqidah, syari’ah, dan akhlak. Atau dalam hal ini biasa
digunakan istilah yang bermacam-macam. Untuk istilah aqidah biasa digunakan
istilah, Tauhid, Ilmu Kalam ,Ilmu Ushuluddin, Theologi, seperti dikatakan
Madjid (1995 : 202)
Jenis-jenis penyebutan lain ilmu kalam yaitu ilmu
aqa’id (yakni ilmu akidah-akidah yakni simpul-simpul/kepercayaan, Ilmu Tawhid
(Ilmu tentang keMaha Esaan (Tuhan)), dan ilmu Ushul al-Din (Ushuluddin yakni
ilmu pokok-pokok agama)). Untuk istilah syari’ah biasa digunakan istilah fiqh,
ibadah,,muamalah dan untuk istilah akhlak biasa digunakan istilah tasauf dan
lain sebagainya. Atau Menurut Nurkholis Madjid (1995 )untuk ketiga istilah ini
biasa digunakan istilah bagaimana cara mengetahuinya dan mengembangkannya
dengan istilah ijtihad, mujtahid dan mujahadah.
Pada modul ini yang akan dibahas yaitu dua saja
aqidah dan akhlak. Untuk sekolah-sekolah tinggi biasa digunakan istilah ini
secara sendiri-sendiri dan itu biasanya menggambarkan keluasan pembahasannya,
Ilmu Kalam biasanya digunakan untuk penyebutan mata kuliah bagi mereka yang
belajar tentang ketuhanan di perguruan tinggi, Ushuluddin lebih luas lagi
biasanya istilah ini digunakan untuk salah satu bagian dari jurusan atau
fakultas yang ada diperguruan tinggi, Tauhid biasanya digunakan untuk belajar
tentang ketuhanan yang saederhana, dan aqidah biasanya digunakan untuk
sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Bahkan di
sekolah-sekolah yang disebutkan tadi ajaran Islam tadi digabungkan dengan
ajaran lain yaitu akhlaq. Oleh karena itu disini akan dibahas tentang dua
ajaran tadi yaitu aqidah dan akhlak.
Kata Aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti
ikatan, yang dimaksud disini adalah ikatan yang kuat pada Allah, Jadi fondasi
awal dari aqidah ini adalah kata Laa Ilaaha Illa Allah ( TIdak ada atuhan
selain Allah).
Menurut Imaduddin Abdurrahim mengatakan adalah “ Sesuatu yang paling kita pentingkan
dalam hidup, sehingga rela melakukan apa saja untuk sesuatu yang dipentingkan
itu “.
Jadi menurutnya Ilaah adalah Sesuatu yang paling
dipentingkan, apa yang kita pentingkan dalam hidup ini?, maka menurutnya banyak
hal dalam hidup kita yang menjadi tuhan kita dalam kenyataannya iyaitu misalnya
harta, tahta , wanita/laki-laki, selama hal tersebut paling kita pentingkan
dalam hidup kita, sehingga kita menghalalkan segala cara untuk hal-hal
tersebut.
Oleh karena itu menurut Imaduddin seharunya dalam
hidup kita seharusnya “Allah” lah yang harus kita pentingkan dalam hidup kita,
sehingga kita rela melakukan apa saya untuk memperoleh keridhaan Allah. Bukan
bderarti kita tidak boleh mencari harta, tahta dan lain sebagainya , tetapi
hendaknya segala yang kita inginkan itu seharusnya tidak bertentangan dengan
keinginan Allah dan untuk mencari ridha Allah.
Melihat pengertian di atas aqidah berkaitan dengan
keyakinan, keyakinan dalam agama Islam adalah Laa ilaaha Illa Allah.Jadi konsep
materi aqidah adalah kita mengajarkan kepada siswa mengenai keyakinan,
bagaimana mengajarkan konsep keyakinan kepada siswa, berarti yang lebih
ditonjolkan adalah ranah afektif atau pembentukan sikap.
Selanjutnya kita membahas mengenai pengertian
akhlak. Akhlak berasal dari kata khulq .
Menurut Al Ghazali Khuluq aartinya bentuk atau
kejadian, yanag dijaksud adalah bentuk “batin”, sebenarnya ketika kita belajar
akhlak sebenarnya sedang mempelajari “bentuk batin” atau “sesuatu yang di
dalam”, tetapi apakah kita bisa melihat bentuk batin tersebut ?, tentu sulit
kecuali orang yang sudah arif.
Oleh karena itu menurut Al Ghazali pengertian akhlak
adalah bentuk batin yang menjelma dalam tingkah lakuu” atau secara lengkap dia
mengatakan pengertian akhlaq adalah …Jadi sebenranya ketika kita melihat
perilaku seseorang belum tentu itu menggambarkan bentuk batin sebenarnya . Oleh
karena itu menurut Ahmad Amin (1995 : 62)
Sebagian orang menyatakan pengertian akhlaq adalah
“Kebiasaan kehendak” , kehendak itu bila membiasakan sesuatu, dan bila
membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak. Maka kebiasaannya itu
disebut akhlak,atau kehendak yang dibiasakan, kehendak merujuk pada aspek dalam
atau biasa disebut juga aspek esoteris dan kebiasaan merujuk pada aspek luark
atau yang biasa disebut aspek eksoteris. Oleh karena itu jika kehendak saja itu
bukan akhlak, atau kelakuann saja tapi tanpa kesadaran itu bukan akhlaq
harusnya ada keduanya.
H.
Karakter/Ciri
Khas materi aqidah akhlak
Sebenarnya ajaran Islam secara praktis sulit untuk
dibedakan, ketika kita melakukan suatu perbuatan atau ibadah, maka mencakup
banyak aspek disitu, disitu ada aspek aqidah, fiqh, dan akhlak. Namun secara
teroritis atau keilmuan hal itu bisa dibagi-bagi. Semua materi PAI yang empat
itu yaitu Aqidah akhlak, fiqh, SKI, dan Al Qur’an Hadits mempunyai karakter
terseendiri . Demikian juga dengan aqidah akhlak, apa sebenarnya yang ingin
dicapai ketika kita melakukan pembelajaran aqidah akhlak. Yang ingin disentuh
dalam pembelajaran aqidah akhlak adalah aspek dalam (hati), pembentukan sikap
sehingga ketika seseorang melakukan perbuatan bukan seperti robot, diperintah
atau ditekan sesuai tombol tetapi dia melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran
yang telah tertanam didalam hatinya, sehingga dalam situasi apapun bisa tetap
berakhlak baik, karena dia melakukan setelah di masukkan dalam hati dan
disadarinya bahwa perbuatan itu memang sangat baik dilakukan. Oleh karena itu
dalam tulisan-tulisannya Al Ghazali
selalu mengatakan bahwa untuk terciptanya akhlak yang baikl maka perlu
melalui tiga tahapan yaitu:
1.Hal
2.Keadaan
3.Perbuatan
Menurutnya akhlak akan terjadi apabila seseorang itu
memasukkan dulu konsep Akhlak ke dalam hati dan fikirannya, kemudian menjadi
keadaan dalam jiwanya, selanjutnya dia melakukannya dan terus melakukannya,
sehingg hal itu sudah mendarah daging sehingga menjadi sifatnya dan
kebiasaannya, OIeh kearena itu Al Ghazali mengatakan bahwa pembinaan akhlak itu
dimulai sejak kecil, dia bukan proses instant atau “sim salabim”, tapi
berproses. Jadi yang lebih utama adalah hatinya yang dididik. Hal ini sejalan
dengan dakwah nabi Muhammad, bahwa kurang lebih tiga belas tahun beliau
mendidik aqidah.Sehingga karena hatinya telah terdidik dengan baik maka
selanjutnya kesadaran itu menjelma dalam perilaku sesuai dengan ajaran Islam
dan menjadikan ummat Islam kuat.
Oleh karena itu pendidikan aqidah akhlak ini adalah
pendidikan yang lebih menekankan aspek sikap, lebih ingin mencapai ranah
afektif, tidak hanya kognitif atau psikomotor saja, karena sikap yang
diutamakan,. Mungkin berbeda dengan fiqh yang lebih menekankan aspek
psikomotorik
Berdasarkan hal itu sebenarnya dalam pembelajaran
aqidah akhlak yang lebih ditutamakan adalah siswa memahami konsep akhlak yang
akan kita ajarkan, apa sih “benda” itu kemudian jika yang diajarkan itu akhlaq
terpuji maka dampak posifitifnya, jika perbuatan itu menguntungkan kita akan
melakukannya, kalau tidak kita tidak akan melakukannya, karena manusia tidak
mau rugi, baik dunia maupun akhirat. Selanjutnya karena itu bagus maka kita
ingin tahu bagaimana cara melakukannya, demikian juga jika akhlak tercela,
bagaimana konsepnya, kemudian dampak negatifnya dan cara menghindarinya..
Maka jika dianalisa maka ketika mengajarkan konsep
akhlak itu lebih mencapai tujuan dari aspek kognitif, selanjutnya dampak
negatif atau positif suatu perbuatan, lebih baik kita sentuh hatinya, hal ini
lebih menekankan aspek afektif dan caranya bagaimana lebih pada psikomotorik,
tetapi kita ingin agar dia mempunyai sikap yang baik untuk kehidupannya
sekarang dan masa- masa yang akan datang.
Konsep pembelajaran aqidah dan akhlak ini sasaran
pengajarannya yang utama adalah keadaan jiwa, seperti dikatakan dalam tim
proyek pembinaan agama Islam (1985 : 56) sasaran pengajaran akhlak sebenarnya
adalah keadaan jiwa, tempat berkumpul segala rasa, pusat yang melahirkan
berbagai karsa, dari sana kepribadian terwujud. Disana iman terhunjam, iman dan
akhlak berada dalam hati, keduanya dapat bersatu mewujudkan tindakan, bila iman
yang kuat mendorong kelihatanlah gejala iman, bila akhlak yang kuat mendorong,
kelihatanlah gejala akhlak, dengan demikian tidak salah kalau pada sekolah
rendah kedua bidang pembahasan ini dijadikan satu bidang studi yang dinamai
bidang studi “aqidah akhlak”.
Melihat hal itu kita ketahui bahwa yang lebih
diutamakan dalam pembelajaran aqidah akhlak adalah pembelajaran hati, oleh
karena itu pembelajarannya baik strategi, evaluasi dan lain sebagainyanya
disesuaikan dengan karakter materinya.
I.
Mata
Pelajaran Akidah-Akhlak di MTS AL-AJHARIYAH
Mata pelajaran Akidah-Akhlak merupakan mata
pelajaran yang mengarah kepada pemahaman dan penghayatan isi yang terkandung
dalam Akidah-Akhlak yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari yaitu dalam perilaku yang memancarkan iman dan taqwa kepada Allah
SWT sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan Hadits.
Mata
pelajaran Akidah-Akhlak adalah salah satu mata pelajaran dalam Pendidikan Agama
Islam (PAI) di MTS AL-AJHARIYAH. Aspek yang terkandung di dalamnya adalah
berfokus pada Pemahaman materi Akidah-Akhlak yang baik dan benar, memahami
makna secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan isi kandungannya dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Metodologi
Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di MTS AL-AJHARIYAH
2. Waktu
penelitian
Waktu
penelitian ini dilakukan di MTS AL-AJHARIYAH selama 3 Bulan terhitung dari
bulan November sampai januari 2014.
B.
Metode
penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam menyususn
proposal ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif naturalistik,yaitu
metode yang menghasilkan data deskriftif.data tersebut di dapatkan dari naskah,
wawancara, catatan lapangan , alat
perekam dan dokumen resmi lainnya.
C.
Data
dan Sumber Data
1. Data
Data penelitian ini adalah kualitatif data berwujud
kata-kata dan tindakan yang dikumpulkan dalam beberapa cara :
a. Data
berwujud kata-kata dikumpulkan melalui
wawancara.
b. Data
berupa tindakan di peroleh dari perilaku atau sikap sumber data.
c. Data
yang tertulis dilihat dari dokumen-dokumen.
2. Sumber
Data
Dalam pengumpulan sumber data,penulis mengambil
keterangan dari beberapa responden yang ada di
MTS AL-AJHARIYAH di antaranya:
a. Guru Pendidikan Agama Islam
b. Siswa
D.
Teknik
Pengumpulan Data
Dalam
hal ini penulis akan melakukan observasi dengan tiga siswa.
1. Prosedur
Pengumpulan Data
Untuk
mengetahui data-data dilapangan maka dipergunakan beberapa teknik dalam
pengumpulan data, yaitu menggunakan
interview (wawancara), observasi, dan studi dokumentasi, lebih lanjut akan
diuraikan sebagai berikut :
a. Wawancara
wawancara merupakan salah satu pengumpulan data
dengan jalan tanyajawab sepihak yang dikerjakan berdasarkan tujuan penelitian,
bisa cara bertatap muka antara pewancara dan pihak yang diwawancara dan
meperoleh data berupa kata-kata. Yang di dapatlan dari guru PAI dan siswa di
MTS AL-AJHARIYAH
b. Obsevasi
Observasi yaitu pengamatan melalui kegiatan
pemusatan perhatian terhadap suatu objek. Pengamatan yang penulis gunakan ini
adalah pengamatan adalah secara tersembunyi (covert) dan pengamatan secara
terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu yang alamiah dan data yang
diperoleh valid serta realible. Pengamatan tersebut penulis lakukan pada latar
alamiah/paradigma alamiah (Natural Inquiry) dengan melalui berbagai
pertimbangan sesuai dengan situasi dan kondisi ; dimana, kapan, dan kepada
siapa penga,matan ini ditujukkan.Pengamatan yang dilakukan di kelas, bersama
guru PAI , siswa dan peneliti.
c. Studi
Dokumentasi
Data dokumtasi adalah laporan tertulis dari suatu
peristiwa (proses kegiatan), yang isinya terdiri dari penjelasan dan pemikiran
terhadap peristiwa itu, serta dengan sengaja untuk menyimpan atau meneruskan
keterangan mengenai peristiwa tersebut. Dilihat dari dokementasi metode Rolle
Playing dilaksanakan di kelas pada mata pelajaran Akidah-Akhlak.
E.
Teknik
Analis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini memakai tiga alur kegiatan yang terjadi secara kebersamaan, yaitu :
1. Reduksi
data yaitu proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan, pengabsahan, dan
transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis merupakan suatu bentuk analisis
yang menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa hingga ditarik kesimpulan
data dan verivikasi.
2. Penyajian
data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinana adanya
penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan penyajian meliputi berbagai jenis
matrik, jaringan dan bagian semua dirancang guna menggabungkan informasi yang
tersusun dalam suatu bentuk yang terpadu dan mudah untuk diraih. Dengan
demikian dapat dilihat apa yang terjadi dan dapat menentukan apakah akan ditarik
kessimpulan atau terus melakukan analisis data tersebut.
3. Menarik
kesimpulan yaitu merupakan alur ketiga dalam menganalisis data,setelah data di
proses dengan mereduksi dan menyajikan data ,kemudian di tarik kesimpulannya.
4. Pengecekan
keabsahan data
5. Untuk
menguji keabsahan data-data penelitian ini,digunakan beberapa cara antara lain:
a) kepercayaan
(kredibilitas): pemeriksaan datanya dilakukan dengan perpanjangan keikutsretaan
sehingga tingkat kepercayaan pemuannya dapat di capai.
b) keteralihan yaitu konsep validitas itu
menyatakan bahwa suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua
konteks pada populasi yang sama atas dasar penemuan yang di peroleh pada sampel
yangb secara representative memilki populasi itu.
6. Triangulasi
yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memenfaatkan sesuatu yang lain di
luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data
itu.tekhnik triangulasi yang paling banyak di gunakan ialah pemeriksan melalui
sumber lain.
DAFTAR PUSTAKA
Idris, M. M. (2008). Strategi dan Metode Pengajaran: Menciptakan
Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif. Yogyakarta, Ar-Ruzmedia.
Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam. Cet. III;
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Ramayulis,Metodologi Pengajaran Agama Islam.(Jakarta:Kalam
Mulia,2001)
Zuhairini,dkk.Metodik Khusus Pendidikan Agama.(Malang:Biro
Ilmiah Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel ,1983).
Yusuf M. Kadar. 2009. Studi Al-Quran. Jakarta : Amzar
[1]
Muhaimin,
Nuansa Baru Pendidikan Islam : (Mengurai
Benang Kusut DuniaPendidikan), (Jakarta: Raja Grafindo, 2006), hlm. 163
[2] E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya,
Cet-Ketujuh, 2008), hlm. 107.
[3]
Arifin,
Ilmu Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis
dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner , (Jakarta: PT Bumi Aksara,
Cet-Pertama, 2003), hlm. 144.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar